psikologi comeback tour

mengapa kita bersedia membayar mahal untuk melihat reuni band lama

psikologi comeback tour
I

Bayangkan situasi ini. Kita sedang duduk santai, menyeruput kopi, dan iseng membuka ponsel. Tiba-tiba lini masa media sosial meledak. Oasis mengumumkan reuni. Atau mungkin Blink-182 kembali dengan formasi awal. Atau pengumuman war tiket Sheila on 7 di kota kita.

Seketika, akal sehat kita seolah menguap. Harga tiket yang setara dengan cicilan motor berbulan-bulan tiba-tiba terasa sangat rasional. Kita rela mengambil cuti kerja. Kita rela antre virtual berjam-jam dengan layar ponsel yang loading, jantung berdebar kencang, dan siap menguras tabungan.

Pertanyaannya, kenapa kita rela melakukan itu? Apakah kualitas musiknya saat ini memang sepadan dengan harganya yang gila-gilaan? Atau jangan-jangan, ada sesuatu yang jauh lebih purba sedang meretas otak kita?

II

Tentu saja, jawaban paling instan yang sering kita dengar adalah: "Ya namanya juga nostalgia."

Tapi mari kita bedah kata tersebut bersama-sama. Secara historis, nostalgia dulunya tidak seindah sekarang. Pada abad ke-17, nostalgia justru dianggap sebagai penyakit medis atau gangguan kejiwaan. Seorang dokter asal Swiss bernama Johannes Hofer menciptakan istilah ini dari gabungan bahasa Yunani. Nostos yang berarti pulang, dan algos yang berarti rasa sakit.

Dulu, ini adalah diagnosis klinis untuk tentara yang depresi parah karena rindu kampung halaman. Ada rasa sakit yang nyata di sana.

Namun sekarang, rasa sakit akibat kerinduan itu telah berubah wujud. Ia bertransformasi menjadi komoditas bernilai triliunan rupiah. Industri hiburan sangat paham bahwa kita semua sedang "sakit" rindu. Dan mereka menjual obat penawarnya bernama comeback tour atau tur reuni.

Tapi ini memunculkan pertanyaan baru. Kenapa obat ini sangat mahal? Dan kenapa kita merasa sangat terdesak, seolah kita harus membelinya sekarang juga? Apa yang sebenarnya terjadi di dalam jaringan otak kita saat kita mendengar intro lagu favorit dari masa SMA?

III

Untuk menjawab teka-teki itu, kita harus masuk ke labirin neurologi. Ada sebuah fenomena spesifik yang terjadi di dalam kepala kita. Dan percayalah, ini bukan sekadar perkara merindukan masa lalu.

Teman-teman mungkin pernah menyadari hal ini. Musik yang rilis saat kita berusia belasan tahun selalu terasa punya tempat yang jauh lebih suci di hati kita. Lagu itu terasa lebih "benar" dibanding lagu hits nomor satu yang kita dengar minggu lalu di radio. Padahal, kalau mau objektif secara kualitas audio, rekaman zaman sekarang jelas jauh lebih jernih dan canggih.

Ternyata, ada semacam glitch atau anomali di sistem memori kita. Otak kita seolah membekukan satu periode waktu tertentu dalam hidup kita. Otak melabeli periode itu sebagai "masa keemasan yang tidak boleh diganggu gugat".

Para ahli saraf dan psikolog kognitif punya nama khusus untuk fenomena ini. Dan begitu kita memahami cara kerjanya, kita akan sadar sebuah fakta mengejutkan. Saat kita panik melakukan checkout tiket konser yang mahal itu, barang yang kita beli sebenarnya bukanlah sebuah pertunjukan musik. Lalu, apa yang sedang kita transaksikan?

IV

Selamat datang di konsep sains bernama reminiscence bump atau lonjakan kenangan.

Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa memori otobiografi manusia yang paling kuat, paling emosional, dan paling detail, terbentuk antara usia 10 hingga 30 tahun. Kenapa harus di rentang usia itu? Karena di masa itulah korteks prefrontal di otak kita sedang bekerja paling keras untuk membentuk identitas.

Di usia itu kita sedang mencari tahu siapa diri kita. Kita sedang belajar jatuh cinta, merasakan patah hati pertama, dan mencari tempat bergaul. Dan musik, adalah lem emosional yang mengikat semua pengalaman itu.

Saat kita mendengar lagu dari band reuni tersebut hari ini, otak kita langsung bereaksi. Sistem saraf kita menyemprotkan dopamin (hormon kesenangan) dan oksitosin (hormon ikatan) dalam jumlah masif. Bagian otak bernama amigdala tidak bisa membedakan antara mengingat masa muda dan kembali menjadi muda. Sensasinya terasa sangat nyata.

Tapi, ada satu faktor psikologis lagi yang menjadi kunci utama. Faktor yang memicu harganya jadi tidak masuk akal dan membuat kita takut kehabisan tiket. Dalam psikologi, ini disebut mortality salience, atau kesadaran akan kefanaan hidup.

Terdengar agak gelap, tapi mari kita hadapi realitasnya. Ketika band idola masa muda kita mengumumkan tur setelah puluhan tahun bubar, kita tiba-tiba dihadapkan pada fakta bahwa idola kita sudah menua. Rambut mereka menipis, suara mereka mungkin tak setinggi dulu. Dan secara tidak sadar, otak kita memantulkan fakta itu ke diri kita sendiri: Astaga, saya juga sudah menua.

Ada urgensi psikologis yang berteriak di dalam kepala. "Ini mungkin kesempatan terakhir melihat mereka!" atau "Ini kesempatan terakhir saya merayakan masa muda!"

Gabungan antara reminiscence bump (kebutuhan biologis merasakan identitas masa muda) dan mortality salience (ketakutan kehilangan kesempatan selamanya) menciptakan badai sempurna. Badai inilah yang mematikan area logika finansial di otak kita.

Kita tidak sedang membeli tiket konser. Kita sedang membeli mesin waktu.

V

Jadi, setelah mengetahui sains di baliknya, apakah kita bodoh karena menghamburkan uang demi melihat pria-pria paruh baya menyanyikan lagu berusia dua puluh tahun?

Tentu saja tidak.

Saya rasa, kita semua sedang berusaha bertahan hidup di masa kini yang penuh dengan tekanan. Mari jujur, dunia orang dewasa itu sangat melelahkan. Tagihan menumpuk, tanggung jawab pekerjaan tidak ada habisnya, dan ekspektasi sosial terus mengejar kita.

Terkadang, satu-satunya cara untuk mereset kewarasan kita adalah dengan melarikan diri sejenak. Kembali ke masa lalu, di mana masalah terbesar kita hanyalah soal nilai ujian matematika atau balasan pesan singkat dari gebetan.

Comeback tour adalah sebuah ruang aman yang secara ilmiah divalidasi oleh otak kita. Ia adalah terapi instan yang dibungkus dengan tata cahaya panggung dan distorsi gitar.

Jadi, jika teman-teman punya tabungan berlebih dan berhasil mendapatkan tiket reuni band impian, jangan pernah merasa bersalah. Nikmatilah setiap detiknya. Tersenyumlah, melompatlah, dan menangislah saat chorus lagu favorit itu dimainkan di stadion.

Karena pada momen magis tersebut, kita tidak sekadar sedang menonton konser. Kita sedang memeluk erat kembali diri kita yang dulu—seorang anak muda yang penuh harapan, yang pernah merasa bahwa dunia ini sangat luas dan segalanya mungkin terjadi. Dan bukankah perasaan semacam itu pantas untuk dirayakan?